Bismillah..
Teringat pada percakapan seorang teman-rahimahullah- yang berkata *dengan gaya khasnya*
“mon oreng soghi mateh pagghun e bhundu’
labun pote keyah, tak kerah deri emas”
yang artinya kurang
lebih
“kalau orang kaya mati akhirnya juga dibungkus dengan kain kafan putih, bukan dengan emas”
“kalau orang kaya mati akhirnya juga dibungkus dengan kain kafan putih, bukan dengan emas”
Ucapan itu terdengar seperti guyonan, namun ternyata tidak jauh dari percakapan itu dia menghembuskan nafas terakhirnya.Tersentak,, ketika mendapat kabar dini hari tentang kepergiannya. Awalnya kami kira mereka sedang jahil, namun setelah berita itu santer terdengar barulah kami percaya.Sebenarnya bukan itu yg hendak kami bahas dalam tulisan singkat ini, namun itulah yg menginspirasi untuk menulis tentang ini.
Bangkai bernyawa,,??
Yaa.. kita ibarat bangkai bernyawa, ketika hilang sang nyawa maka tinggallah sang bangkai, lantas kemana bangkai yang sebagian besar dari kita membanggakannya? Bukankah bangkai itu tak lain hanyalah jasad yang tak ada guna ketika tak ada ruh di dalamnya? Jasad hanyalah wadah dimana ruh lah yang akan menjadi aktor utama dalam memainkan kehidupan ini.
Usia muda tidak menjamin hidup kita masih lama, usia muda juga tidak menjamin malaikat maut jauh dari kita.
Sudah ada banyak pemuda terdekat yang kami kenal meninggalkan perhiasan dunia -yang menipu- untuk selamanya. Ya, umur mereka hanya berkisar 18-23 tahun. Malaikat maut tidak pernah menyalahi takdir, siapa yang tau kapan kita akan mati? Yang mengaku paranormal pun tidak pernah akan tau kapan dirinya mati. Ungkapan paranormal pun seharusnya adalah para tidak normal, karena paranormal sesungguhnya itu adalah kita manusia normal.
Kalau saja kita tau kapan kita mati, mungkin kita akan mempersiapkannya jauh-jauh hari, dengan menghindari syirik, maksiat, dan dosa-dosa besar bahkan yang paling kecil pun mungkin kita akan takut untuk melakukannya. Kalau saja kita sanggup melakukan nego dengan malaikat maut mungkin kita meminta agar menunda dulu kematian kita sebelum kita bertobat kepada Sang Pencipta.
Ya Itulah kita, manusia yang diperintah agar beribadah hanya kepada Nya, karena kita tidak tau kapan takdir kematian itu menghampiri kita, mungkin besok, nanti, dua jam setelah ini, atau satu jam, atau bahkan setelah membaca tulisan ini? Kita manusia hanya bisa berdoa agar kematian kita khusnul khotimah.
Akhirnya, kami tutup tulisan ini dengan Alhamdulillah dan
do’a agar diberikan ketetapan hati dan khusnul khotimah (Akhir kehidupan yg baik) Aamiin..
اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
"Ya
Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami pada ketaatan kepada-Mu
(HR. Muslim no. 2654 dari Abdullah bin 'Amr al Ash)
يَا مُقَلِّبَ
القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنكَ
"Ya
Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." (HR.
Ahmad VI/302, Hakim I/525, Tirmidzi no. 3522. Shahih, lihat Shahih at-Tirmidzi
III/171 no. 2792.)
Pamekasan, home sweet home;
February, 6th 2013 ; 11:50 PM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar